Ini pendakian bersama keluarga besar SWATALA di Gunung Gede Pangrango. Pendakian ini di rencanakan oleh rekan senior angkatan 20 ke-atas dengan tujuan untuk mengumpulkan seluruh anggota Swatala dari angkatan tua, hingga angkatan baru, dan juga mengajarkan anggota baru tentang ilmu Organisasi dalam melaksanakan sebuah program. Saya yang termasuk angkatan baru belum pernah menyelenggarakan kegiatan semacam ini sebelumnya. Awalnya saya dan teman-teman satu angkatan merasa agak keberatan karena harus di bebani dengan pengurusan kegiatan semacam ini, tetapi banyak senior yang bersedia untuk membantu kami meng-organisir kegiatan ini.
Dipilihlah gunung Gede Pangrango via Gunung Putri. Alasan senior memilih gunung Gede di karenakan letaknya tidak terlalu jauh dari Jakarta dan juga cukup mudah untuk di daki. Pendakian ini dinamakan 'Swatala Family Camp' dengan Tagline "We Never Leave Our Family". Pendakian keluarga ini kami lakukan pada tanggal 23-24 mei 2015.
Jujur, ketika proses persiapan untuk kegiatan Family Camp ini saya dan teman-teman saya menghadapi banyak kendala. Mulai dari ketua acara yang jarang berkumpul, banyak nya rapat yang tidak mendapatkan hasil, jobdesk yang dilakukan oleh panitia tidak sesuai dengan yang sudah di atur dalam susunan kepanitiaan, masalah Dana, masalah Simaksi TNGGP yang cukup 'ribet', dan juga masalah-masalah lainnya. Tetapi semua masalah itu dapat terkendali karena keinginan kita untuk dapat mengumpulkan anggota Swatala dalam suatu kegiatan.
Pada Hari Jumat malam, di tanggal 23 Mei 2015 Pusat Kegiatan Mahasiswa (PUSGIWA) Universitas Mercu Buana menjadi titik kumpul seluruh panitia untuk Packing. Setelah packing selesai, seluruh panitia bergegas menuju Gedung Pusdiklat yang berada tidak jauh dari Kampus, karena titik kumpul bersama peserta adalah di Pusdiklat. Ada sedikit cerita mengapa Pusdiklat ini kita jadikan titik kumpul, karena pihak kampus melarang kami untuk menjadikan wilayah kampus sebagai titik kumpul kegiatan ini. Tidak diberitahukan secara pasti alasan dilarangnya kami berkumpul di wilayah kampus.
Untuk transportasi menuju cipanas, pihak panitia menyediakan bus yang di Sewa. Tetapi ada beberapa peserta yang menggunakan mobil pribadinya. Sekitar pukul 9 malam bus kami meuju ke Cipanas. Mengingat pada tanggal 23-25 Mei kemarin adalah Long Weekend, jadi jalanan menuju Kawasan Puncak cukup macet.
Sekitar pukul 1 malam kita tiba di Cipanas. Tetapi bus yang mengangkut kami hanya dapat mengantar sampai di bawah. Untuk menuju ke pos Gunung Putri kami harus men-carter angkot lagi. Saat tiba di Gunung Putri, kami menginap di Rumah Warga yang memang sudah kami sewa. Pemilik rumah ini biasa di panggil dengan sebutan Abah Haji.
Ke-esokan paginya kami bangun di waktu subuh. Sembari ibadah, bersih-bersih, sarapan, kami juga Re-packing bawaan kami. 2 orang kawanku, bernama Ari dan Cesar pagi itu berangkat terlebih dahulu untuk menyusul tim Advent yang dari kemarin sudah berada di Alun-alun Surya Kencana.
Sekitar pukul 10 panitia dan peserta memulai pendakian. Sebelum pendakian dimulai, berdo'a bersama pun kami lakukan dengan harapan supaya pendakian kali ini berjalan lancar.
Setalah berdoa, ritual Swatala tak lupa kami laukan. Teriakan SWATALA SWATALA SWATALA.... dengan semangat kami lantunkan, dan mungkin mengganggu beberapa makhluk hidup yang ada di dekat situ. Sekitar pukul 9 pagi pendakian kami mulai. Panitia berjalan secara menyebar, menyesuaikan dengan jumlah peserta. Awal perjalanan kami di temani dengan rapihnya perkebunan warga.
Berjalan sekitar 5 menit, kami pun tiba di pos pemantauan pendakian Gunung Putri. Ditempat ini pendaki diharuskan mengisi data nama pendaki, dan menitipkan barang yang mungkin tidak dipakai saat mendaki supaya meringankan beban carrier, dan juga menitipkan barang-barang yang dilarang untuk dubawa pada saat melakukan pendakian Gunung Gede. Sedikit catatan di gunung Gede pendaki dilarang membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti sabun, sampo, dan sejenisnya, Dan juga tramontina juga dilarang dibawa dalam melakukan pendakian di Gunung Gede ini.
Setelah mengisi data di pos, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan masih dihiasi oleh perkebunan warga. Semakin lama, jalan kami pun semakin menanjak. Perkebunan yang awalnya masih berupa pepohonan kecil, lama-kelamaan pohonnya mulai tinggi. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami pun mulai memasuki vegetasi hutan. Pepohonan pun mulai rindang, perjalanan yang awalnya kami terkena sengatan matahari, kini menjadi adem. Ya, di vegetasi hutan ini pohon-pohon sudah mulai tinggi dan lebat.
Perjalanan ini diihiasi oleh berbagai cerita dari pengalaman para senior kami. Ada yang bercerita perbedaan pendakian dizaman mereka dengan pendakian yang sekarang. Sembari berbagi cerita dengan para senior, sapaan dari para pendaki lain pun juga tak luput menghiasi perjalanan kami. Beberapa kali pun kami berhenti guna mengisi stok udara di paru-paru yang mulaimenyempit karena perjalanan yang menanjak ini. Tawaran untuk bergabung dan berbagi makanan pun juga selalu kami dengar dari para pendaki yang juga sedang istirahat.
Semakin lama, perjalanan semakin meanjak.Paru-paru pun semakin mudah menyempit. Sekitar 2 jam pendakian, hujan pun turun. Pendakian tertunda karena kami memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang dahannya besar. Tetapi semakin lama kami punmulaimerasa bosan untuk menunggu. Dan akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Rain Coat pun kami kenakan. Guyuran hujan kami tebas demi menjapai tempat tujuan sebelum matahari kembali ke peraduannya.
Karena keuatan fisik dari kami yang berbeda-beda, pada akhirnya kami mulau berjalan secara terpisah. Mereka yang cepat akan berada di depan. Mereka yang lambat biasanya akan berkata "duluan aja deh" sambil ngos-ngosan. Dan mereka yang egois akan berjalan duluan tanpa bertanya kepada temannya apakah ia lelah atau tidak. Ya seperti itulah jika mendaki gunung, semua sifat asli dari seseorang akan terlihat.
Karena lelahnya ini, yang tadinya kami berjalan hampir bersamaan, kini aku hanya berjalan bersama seorang teman ku, Anggun namanya. Kak Anggun ini memang memiliki fisik yang mudah lelah. Ketika beristirahat dan ia bersandar di pundakku, sebenarnya aku agak khawatir. Kak Anggun adalah orang yang mudah kedinginan. Guyuran hujan, dan tempat kita yang sudah berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl membuat tubuh ini cepat sekali merasakan dingin. Terlebih baju kami sudah mulai basah karena rembesan air hujan dan juga keringat yang mengucur deras. Tak mau terlalu lama merasakan dingin, pada akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan supaya kami bisa cepat sampai di Alun-alun Surya Kencana, ingin rasanya ketika sampai di Surya Kencana langsung lari mencari tenda tim kami, lalu setelah sampai di tenda, ingin langsung mengganti baju hangat dan setelah nya membuat segelas teh hangat untuk mengembalikan energi yang terkuras habis saat mendaki tadi.
Tanjakan demi tanjakan yang semakin curam kami lalui. Tiba saat kami pada akhirnya menemui 'bonus'. Jalan mulai landai. Kalo kata para pendaki yang pernah mendaki Gunung Gede via Gunung Putri sih ini pertanda Surya Kencana sudah dekat. Langkah kaki kami percepat, karena tak sabar supaya bisa mengganti pakaian. Padang rumput luat sudah mulai terlihat oleh kami. Ditempat ini pun akan banyak ditemui pedagang yang menjajakan minuman, dan berbagai makanan ringan. Keberadaan pedagang ini sungguh sangat membantu para pendaki yang sudah kehausan dan malah untuk membuka tasnya untuk mengambil bekal minumnya. Harga yang dipatok tinggi oleh para pedagang disini aku bilang sangatlah wajar mengingat sulitnya perjalanan untuk menuju ke alun-alun Surya Kencana.
Sekitar berjalan 15 menit, akhirnya kami menemui tenda tim kami. Tenda sudah berdiri rapih karena sudah dibangun oleh mereka yang sampai di Surya Kencana terlebih dahulu. Langsung saja aku duduk di matras yang telah digelar oleh teman ku, dan mereka menyuguhkan teh hangat kepadaku. Setelah puas meluruskan kaki, aku pun langsung memasuki tenda yang sudah disediakan untuk mengganti pakaian ku yang basah dengan pakaian kering.
Satu persatu Rombongan tim telah hadir dan dalam waktu yang berbeda-beda. Yang pastinya, rombongan kami tiba di Surya Kencana sebelum lagt menjadi gelap.
Malam dinginnya udara sangat menusuk hingga ke tulang. Surya Kencana yang merupakan daerah lembahan bukanlah hal yang asing lagi jika para pengunjung merasakan dingin yang amat sangat.
Berbeda dengan gunung-gunung sepi yang pernah aku daki. Jika berkunjung ke gunung Gede saat akhir pekan, kamu akan sangat sulit menemukan kesunyian. Ramainya pengunjung yang tidak terbiasa menikmati kesunyian gunung mungkin akan sangat mengganggu para pendaki yang mendaki untuk mencari ketenangan.
Pada malam itu aku melihat pendaki yang membawa lampu sorot (elu kata konser?), lalu ada yang membawa pengeras suara (entah apa namanya) seperti suara terompet, dan musik yang di putar dengan suarayang sangat keras.
Sebelum tidur, aku dan rombongan melakukan diskusi tentang Swatala untuk kedepannya. Kedekatan jarak duduklah yng pada malam itu yang menghangatkan tubuh. Dan tak ketinggalan cangkir-cangkir mnuman hangat yang kami munim bersama-sama.
Malam yang sangat dingin. Hanya itu yang bisa aku katakan saat tidur di dalam tenda yang berisi lima orang wanita.
Ke-esokan paginya, rencana untuk melakukan Summit Attack di saat fajar gagal. Karena dingin yang amat membuat diri ini malas untuk membuka sleeping bag. Alhasil perjalanan ke puncak dilkukan setelah matahari dengan semangat menyinari pegunungan di pagi itu.
Tidak semua ikut ke puncak. Aku yang tadinya sangat malas untuk ke puncak karena badan yang sudah sangat lelah, akhirnya memutuskan untuk teta pergi ke puncak. Karena baru pertama kali mendaki gunung gede, rasanya sayang jika tidak ikut muncak.
Perjalanan dari Surya Kencana ke puncak dapat ditempuh dalam waktu 15 menit langkah cepat. Kondisi trek ke puncak cukup terjal. Beberapa kali aku pribadi harus merangkak untuk menapaki jalan yang menanjak tersebut. Eh mungkin aku saja sih, karena sudah terlalu lelah. Dan jujur sih, aku hampir menagis saat menuju puncak hahahah.
Sesampainya di puncak, yang bisa aku lakukan adalah bersyukur. (maafkan kalau lebay). Sontak aku memeluk kak Aul, yang memang selama perjalanan menuju puncak dia yang menyemangati. hahahah terimkasih banyak ya kak aul.....
Gunung Pangrango terlihat jelas dengn bentuk kerucutnya dari puncak gunung gede. Puncak gnung gede tanahnya tidak luas. Jadi tidak terlalu disarankan untuk endirikan tenda di sini. Pengelola sudah memasangi pagar pembatas antara puncak dan tebing. Karena tanah puncak dan tebing sangatlah dekat. Salah langkah, udah deh....
Kondisi puncak Gunung Gede saat Weekend memang selalu ramai.
Setelah puas menikmati puncak uung sembari mengumpulkan foto, kita kembali ke Surya Kencana. Yang luar biasanya, beberapa tenda sudah dibongkat dan makan pagi juga sudah siap. Sayang banget sama mereka yang stay di Surya Kencana.
Setelah perut puas, dan masing-masing dari kita sudah melakukan packing, kami memulai perjalanan pulang. Perjalanan pulang kembali terbagi dalam beberapa kelompok. Aku pribadi menempuh perjalanan hingga ke pos gunung putri tidak sampai 4 jam.
Perjalanan ini sangat hebat. Beberapa orang senior yang sudah mulai berumur tetap kuat mendaki. Kebanyakan dari mereka beralasa untuk nostalgia dengan hobi mereka.
Semoga kita semua selalu sehat dan baik-baik saja. Dan bisa melakukan kegiatan semacam ini lagi.
Ke-esokan paginya kami bangun di waktu subuh. Sembari ibadah, bersih-bersih, sarapan, kami juga Re-packing bawaan kami. 2 orang kawanku, bernama Ari dan Cesar pagi itu berangkat terlebih dahulu untuk menyusul tim Advent yang dari kemarin sudah berada di Alun-alun Surya Kencana.
Sekitar pukul 10 panitia dan peserta memulai pendakian. Sebelum pendakian dimulai, berdo'a bersama pun kami lakukan dengan harapan supaya pendakian kali ini berjalan lancar.
Setalah berdoa, ritual Swatala tak lupa kami laukan. Teriakan SWATALA SWATALA SWATALA.... dengan semangat kami lantunkan, dan mungkin mengganggu beberapa makhluk hidup yang ada di dekat situ. Sekitar pukul 9 pagi pendakian kami mulai. Panitia berjalan secara menyebar, menyesuaikan dengan jumlah peserta. Awal perjalanan kami di temani dengan rapihnya perkebunan warga.
Berjalan sekitar 5 menit, kami pun tiba di pos pemantauan pendakian Gunung Putri. Ditempat ini pendaki diharuskan mengisi data nama pendaki, dan menitipkan barang yang mungkin tidak dipakai saat mendaki supaya meringankan beban carrier, dan juga menitipkan barang-barang yang dilarang untuk dubawa pada saat melakukan pendakian Gunung Gede. Sedikit catatan di gunung Gede pendaki dilarang membawa barang-barang yang mengandung bahan kimia seperti sabun, sampo, dan sejenisnya, Dan juga tramontina juga dilarang dibawa dalam melakukan pendakian di Gunung Gede ini.
Setelah mengisi data di pos, kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan masih dihiasi oleh perkebunan warga. Semakin lama, jalan kami pun semakin menanjak. Perkebunan yang awalnya masih berupa pepohonan kecil, lama-kelamaan pohonnya mulai tinggi. Setelah berjalan sekitar 15 menit, kami pun mulai memasuki vegetasi hutan. Pepohonan pun mulai rindang, perjalanan yang awalnya kami terkena sengatan matahari, kini menjadi adem. Ya, di vegetasi hutan ini pohon-pohon sudah mulai tinggi dan lebat.
Perjalanan ini diihiasi oleh berbagai cerita dari pengalaman para senior kami. Ada yang bercerita perbedaan pendakian dizaman mereka dengan pendakian yang sekarang. Sembari berbagi cerita dengan para senior, sapaan dari para pendaki lain pun juga tak luput menghiasi perjalanan kami. Beberapa kali pun kami berhenti guna mengisi stok udara di paru-paru yang mulaimenyempit karena perjalanan yang menanjak ini. Tawaran untuk bergabung dan berbagi makanan pun juga selalu kami dengar dari para pendaki yang juga sedang istirahat.
Semakin lama, perjalanan semakin meanjak.Paru-paru pun semakin mudah menyempit. Sekitar 2 jam pendakian, hujan pun turun. Pendakian tertunda karena kami memutuskan untuk berteduh di bawah pohon yang dahannya besar. Tetapi semakin lama kami punmulaimerasa bosan untuk menunggu. Dan akhirnya kami putuskan untuk melanjutkan perjalanan. Rain Coat pun kami kenakan. Guyuran hujan kami tebas demi menjapai tempat tujuan sebelum matahari kembali ke peraduannya.
Karena keuatan fisik dari kami yang berbeda-beda, pada akhirnya kami mulau berjalan secara terpisah. Mereka yang cepat akan berada di depan. Mereka yang lambat biasanya akan berkata "duluan aja deh" sambil ngos-ngosan. Dan mereka yang egois akan berjalan duluan tanpa bertanya kepada temannya apakah ia lelah atau tidak. Ya seperti itulah jika mendaki gunung, semua sifat asli dari seseorang akan terlihat.
Karena lelahnya ini, yang tadinya kami berjalan hampir bersamaan, kini aku hanya berjalan bersama seorang teman ku, Anggun namanya. Kak Anggun ini memang memiliki fisik yang mudah lelah. Ketika beristirahat dan ia bersandar di pundakku, sebenarnya aku agak khawatir. Kak Anggun adalah orang yang mudah kedinginan. Guyuran hujan, dan tempat kita yang sudah berada di ketinggian lebih dari 2000 mdpl membuat tubuh ini cepat sekali merasakan dingin. Terlebih baju kami sudah mulai basah karena rembesan air hujan dan juga keringat yang mengucur deras. Tak mau terlalu lama merasakan dingin, pada akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan supaya kami bisa cepat sampai di Alun-alun Surya Kencana, ingin rasanya ketika sampai di Surya Kencana langsung lari mencari tenda tim kami, lalu setelah sampai di tenda, ingin langsung mengganti baju hangat dan setelah nya membuat segelas teh hangat untuk mengembalikan energi yang terkuras habis saat mendaki tadi.
Tanjakan demi tanjakan yang semakin curam kami lalui. Tiba saat kami pada akhirnya menemui 'bonus'. Jalan mulai landai. Kalo kata para pendaki yang pernah mendaki Gunung Gede via Gunung Putri sih ini pertanda Surya Kencana sudah dekat. Langkah kaki kami percepat, karena tak sabar supaya bisa mengganti pakaian. Padang rumput luat sudah mulai terlihat oleh kami. Ditempat ini pun akan banyak ditemui pedagang yang menjajakan minuman, dan berbagai makanan ringan. Keberadaan pedagang ini sungguh sangat membantu para pendaki yang sudah kehausan dan malah untuk membuka tasnya untuk mengambil bekal minumnya. Harga yang dipatok tinggi oleh para pedagang disini aku bilang sangatlah wajar mengingat sulitnya perjalanan untuk menuju ke alun-alun Surya Kencana.
Sekitar berjalan 15 menit, akhirnya kami menemui tenda tim kami. Tenda sudah berdiri rapih karena sudah dibangun oleh mereka yang sampai di Surya Kencana terlebih dahulu. Langsung saja aku duduk di matras yang telah digelar oleh teman ku, dan mereka menyuguhkan teh hangat kepadaku. Setelah puas meluruskan kaki, aku pun langsung memasuki tenda yang sudah disediakan untuk mengganti pakaian ku yang basah dengan pakaian kering.
Satu persatu Rombongan tim telah hadir dan dalam waktu yang berbeda-beda. Yang pastinya, rombongan kami tiba di Surya Kencana sebelum lagt menjadi gelap.
Malam dinginnya udara sangat menusuk hingga ke tulang. Surya Kencana yang merupakan daerah lembahan bukanlah hal yang asing lagi jika para pengunjung merasakan dingin yang amat sangat.
Berbeda dengan gunung-gunung sepi yang pernah aku daki. Jika berkunjung ke gunung Gede saat akhir pekan, kamu akan sangat sulit menemukan kesunyian. Ramainya pengunjung yang tidak terbiasa menikmati kesunyian gunung mungkin akan sangat mengganggu para pendaki yang mendaki untuk mencari ketenangan.
Pada malam itu aku melihat pendaki yang membawa lampu sorot (elu kata konser?), lalu ada yang membawa pengeras suara (entah apa namanya) seperti suara terompet, dan musik yang di putar dengan suarayang sangat keras.
Sebelum tidur, aku dan rombongan melakukan diskusi tentang Swatala untuk kedepannya. Kedekatan jarak duduklah yng pada malam itu yang menghangatkan tubuh. Dan tak ketinggalan cangkir-cangkir mnuman hangat yang kami munim bersama-sama.
Malam yang sangat dingin. Hanya itu yang bisa aku katakan saat tidur di dalam tenda yang berisi lima orang wanita.
Ke-esokan paginya, rencana untuk melakukan Summit Attack di saat fajar gagal. Karena dingin yang amat membuat diri ini malas untuk membuka sleeping bag. Alhasil perjalanan ke puncak dilkukan setelah matahari dengan semangat menyinari pegunungan di pagi itu.
Tidak semua ikut ke puncak. Aku yang tadinya sangat malas untuk ke puncak karena badan yang sudah sangat lelah, akhirnya memutuskan untuk teta pergi ke puncak. Karena baru pertama kali mendaki gunung gede, rasanya sayang jika tidak ikut muncak.
Perjalanan dari Surya Kencana ke puncak dapat ditempuh dalam waktu 15 menit langkah cepat. Kondisi trek ke puncak cukup terjal. Beberapa kali aku pribadi harus merangkak untuk menapaki jalan yang menanjak tersebut. Eh mungkin aku saja sih, karena sudah terlalu lelah. Dan jujur sih, aku hampir menagis saat menuju puncak hahahah.
Sesampainya di puncak, yang bisa aku lakukan adalah bersyukur. (maafkan kalau lebay). Sontak aku memeluk kak Aul, yang memang selama perjalanan menuju puncak dia yang menyemangati. hahahah terimkasih banyak ya kak aul.....
Gunung Pangrango terlihat jelas dengn bentuk kerucutnya dari puncak gunung gede. Puncak gnung gede tanahnya tidak luas. Jadi tidak terlalu disarankan untuk endirikan tenda di sini. Pengelola sudah memasangi pagar pembatas antara puncak dan tebing. Karena tanah puncak dan tebing sangatlah dekat. Salah langkah, udah deh....
Kondisi puncak Gunung Gede saat Weekend memang selalu ramai.
Setelah puas menikmati puncak uung sembari mengumpulkan foto, kita kembali ke Surya Kencana. Yang luar biasanya, beberapa tenda sudah dibongkat dan makan pagi juga sudah siap. Sayang banget sama mereka yang stay di Surya Kencana.
Setelah perut puas, dan masing-masing dari kita sudah melakukan packing, kami memulai perjalanan pulang. Perjalanan pulang kembali terbagi dalam beberapa kelompok. Aku pribadi menempuh perjalanan hingga ke pos gunung putri tidak sampai 4 jam.
Perjalanan ini sangat hebat. Beberapa orang senior yang sudah mulai berumur tetap kuat mendaki. Kebanyakan dari mereka beralasa untuk nostalgia dengan hobi mereka.
Semoga kita semua selalu sehat dan baik-baik saja. Dan bisa melakukan kegiatan semacam ini lagi.
Komentar
Posting Komentar