Assalammualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.....
Mungkin saat ini, kalian yang berkenalan denganku akan melihat diriku berpakaian layaknya seorang wanita. Mengenakan gamis, atau rok, menjulurkan khimar yang menutupi dada, lengkap dengan kaos kaki dan manset, walaupun baju yng aku kenaan sudah berlengan panjang.
Pada akhirnya aku memutuskan untuk mengenakan pakaian muslimah tersebut. Setelah mengalami pergolakan batin, antara siap dan tidak, perasaan takut di caci orang dengan kata 'Fanatik, kayak ibu-ibu' dan yang paling membuat ku ragu untuk mengenakan pakaian syar'i adalah omongan orang-orang yang mengatakan jika orang-orang berjilbab syar'i akan sulit mendapatkan pekerjaan.
Tetapi, setelah mengenal beberapa tokoh sukses berjilbab syar'i aku semakin yakin jika dengan berjilbab syar'i pun secara finansial aku akan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu juga, banyak tokoh muslimah berpakaian Syar'i yang sukses menjadi panutan banyak orang. Mereka cerdas, terlihat cantik dengan kesederhanaannya, dan inner beauty mereka terpancar.
Terlalu fokusnya aku mencari kesenagan hidup, bagaimana menikmati hidup ini yang hanya sekali, atau mencerdaskan diri yang sifatnya ilmu dunia. Yang aku tahu dahulu, sebagai orang islam, ya aku kudu sholat, kudu puasa di bulan ramadhan, dan sebagainya. Al-qur'an yang sangat jarang aku sentuh, hanya sesekali aku baca, tanpa ingin mengetahui isi dari Al-Qur'an.
Mejadwalkan gaya berpakaian, berbagi celana jeans ketat menumpuk di belakang pintu, kaos-kaos oblong yang menjadi koleksi, dan jilbab segiempat yang hanya ku pakai untuk kuliah. Ya, dulu aku memakai jilbab hanya untuk ke kampus. Ketika ain keluar, jilbab aku tanggalkan, dengan aksesoris yang menghias rambut, etah topi, ikat rambut, atau bandana.
Melihat mereka yang mengenakan jilbab syar'i menjadi kekaguman tersendiri untukku. Mereka terlihat sangat cantik. Sehingga saat itu terbesit dipikiranku untuk mengenakannya juga. tetapi, berbagai pemikiran sekuler tersebutlah yang menghalagi niat baik tersebut.
![]() |
| Ini sahabat ku yang namanya Santi. Pake jilbab Tosca |
Lalu, santi mengajakku untuk ikut kegiatan buka puasa bersama dengan 'Teduh'. Eh ya teduh itu apa sih? Teduh diambil dari singkatan yang artinya 'Terikat Dalam Ukhuwah'. Teduh adalah kumpulan anak rohis kampus dari mahasiswa angkatan 2013. Yang dimana pada saat itu, aku bertemu dengan semua wanitanya mengenakan hijab syar'i. Aku yang pada saat itu merasa malu karena menjadi satu-satunya wanita yang mengenakan celana jeans dan jilbab lilit.
Yang berkesan ketika aku berkenalan dengan mereka, mereka semua baik. Kesan pertama ketika bertemu dengan mereka adalah mereka semua bisa menerimaku apa adanya. Mereka semua ramah, dan pastinya terlihat cantik dan anggun.
Sadar akan kewajiban wanita untuk menjulurkan jilbabnya hingga ke dada. Pada akhirnya aku mencoba untuk memanjang jilbabku hingga menutupi dada. Kondisi pada saat itu aku belum memiliki jilbab panjang. Hanya memiliki beberapa koleksi jilbab paris, yang aku kondisikan supaya bisa menutupi dada saat aku memakainya. Jilbab paris yang aku kenakan dua lapis cukup membuat jilbabku menutupi dada saat aku kenakan.
Perlahan, namun pasti. Suatu hari aku mencoba untuk mengenakan rok ke kampus, dan memakai jilbab yang belum lama aku beli di toko tekstil cpadu. Jilbab berbahan katun jepang yang aku buat berukuran 115x115 cm. Jilbab syar'i pertamaku. Walaupun sebenarnya ukuran 115x115 cm itu masih tergolog pendek untuk tubuhku yang cukup berisi.
Alhamdulillah respon positif banyak berdatangan dari teman-teman. Dulu sih aku berpikir dengan mengubah penampilanku memakai jilbab syar'i pertanda jika aku sudah berhijrah. Ternyata, hijrah itu bukan hanya sebatas merubah penampilan. Dan aku pun mencari tahu yang namanya hijrah itu apa sih? kok masih ada tahap yang namanya istiqomah?
Ternyata, hijrah itu adalah proses awal. Proses awal seseorang untuk berpindah. Dahulu, ummat nabi Muhammad pernah diperintahkan untuk hijrah dari Makkah ke Madinah. Karena keadaan di Makkah sudah tidak memunginkan untuk umat nabi Muhammad yang beriman, maka Allah SWT memrintahkan mereka untuk berhijrah.
Tapi, konteks berhijrah yang sekarang aku alami bukanlah hal yang seperti itu. Melainkan berpindah dari yang belum baik, menjadi baik. Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang dulunya cinta pada dunia, menjadi cinta kepada Akhirat. Dan yang pastinya, aku belajar tentang mencintai Allah melebihi cinta kepada segalanya.
Kajian pertama yang aku ikuti semenjak memutuskan untuk berhijrah adalah, kajian tentang pra-nikah. Kajian semacam ini biasanya didatangi oleh anak-anak muda. Mungkin mereka yang sedang galau sehabis di putusin mantan, ditinggal nikah, atau cinta yang tak terbalas. Biasanya mereka yang hadir adalah kawula muda yang gampang baper. Eh engga juga sih. Lebih tepatnya mereka yang ingin belajar cara mencintai dengan benar. Di kajian ini aku datang seorang diri. Kajiannya berlokasi di Masjid Raya Bintaro Jaya.
Semenjak itu, aku jadi keranjingan untuk menghadiri kajian. Dan pada akhirnya, aku dipertemukan dengan komunitas muslimah khusus Akhawat bernama Dakwah Akhwat Mulia. Alhamdulillah, seiring berjalanya wktu, semakin banyak kawan-kawan baru yang juga memutuskan untuk berhijrah. Berkawan dengan mereka membuatku semakin yakin untuk terus mengenakan jilbab Syar'i ketika dimana godaan untuk kembali mengenakan pakaian lama terbesit.
Lantas kesan ku menjalani roses hijrah bagaimana? Hijrah itu sulit. Kamu akan menerima perkataan jelek dari orang-orang sekitar. Bahkan yang lebih berat adalah, ketika orang tua tidak menyetujui keputusanmu untuk berhijrah.
Berat. Dimana ridho orangtua adalah yang mutlak kita dapatkan. Tetapi jika ingat Surah Lukman ayat 14-15, menyadarkanku akan hal tersebut.
"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu" 14
"Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." 15.
Yang merasakan sulitnya Berhijrah bukan hanya aku kok. Banyak cerita yang berbeda-beda dari kawan seperjuangan yang juga merasakan sulitnya berhijrah. Aku tidak boleh menyerah. Karena istiqomah itu hadiahnya Syurga.


Komentar
Posting Komentar